Riuh renda suara bocah-bocah bermain dan bernyanyi memecah ketegangan suasana belajar para Ibu siang itu. Inisiatif Mbak Santi mengumpulkan anak-anak untuk diajak bermain sementara orang tua mereka mengikuti kegiatan, saya akui adalah ide cemerlang. Ifa, sang guru di sebuah sekolah Internasional terkemuka di Jakarta pun langsung berjingkat tanpa menunggu komando.

Ada secuil cerita ketika saya dan kawan-kawan melakukan kegiatan bersama komunitas pemulung di kawasan Pondok Betung Tangerang akhir 2015 lalu. Sebuah ironi, sebagian besar anak-anak yang tinggal di kawasan tersebut masih belum tersentuh pendidikan yang layak. Hal ini membuat saya berpikir bagaimana kemiskinan struktural bagai lingkaran hitam yang terus membayang.

Saya masih meyakini pendidikan adalah sarana untuk mobilisasi sosial, saya sudah sering menyaksikannya. Namun sayang, konsep itu belum bisa dirasakan oleh komunitas pemulung Pondok Betung. Saya mendapati kenyataan bahwa ada orang tua yang memilih tak memberikan pendidikan kepada anaknya.

Di tengah kegiatan, mbak Santi mendekati saya dan menunjukkan foto-foto keseruannya bersama anak-anak. “Ini namanya Dilman, 8 tahun belum bisa baca, tidak sekolah, katanya dia lebih suka membantu ibunya, saya ingin tahu yang mana ibunya, dia bilang namanya Darkem, kamu tahu yang mana?”

Darkem, perempuan berusia 50an itu sempat saya bantu mengisi pre-tes dan beberapa hal selama kegiatan, lantaran ia tak bisa membaca dan menulis. Ya, Darkem buta huruf. Dilman adalah anak bontot, sementara si sulung yang juga buta huruf sudah berkeluarga, bahkan mempunyai anak yang usianya lebih tua dari Dilman.

Dilman hanya satu yang kami temukan, tak menutup kemungkinan ada yang lain juga. Sebab di kawasan pemulung itu terdapat beberapa kelompok pemulung yang dibagi berdasarkan blok dengan “bos” yang berbeda-beda. Waktu itu, kami hanya melakukan intervensi untuk satu blok saja.

Beberapa pemulung di tempat itu memilih untuk menitipkan anak-anak mereka di kampung halaman. Alasannya biaya lebih murah dan mereka bisa lebih fokus memulung. Jalan tengah yang mereka pilih masuk akal, meski ada saja yang mengeluh karena harus mengirim biaya hidup dan biaya sekolah yang tidak sedikit.

Sementara pemulung yang memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di kota besar juga sama saja mengeluhnya. Belum lagi jaminan kerja yang didapat anak-anak mereka selepas lulus SMA. Tak mudah mencari pekerjaan di kota besar dengan bekal ijazah SMA. Ujung-ujungnya anak mereka menikah muda agar ada seseorang yang bersedia menanggung hidupnya. Ya, kami mendapati banyak ibu muda di sana, mereka tak lain adalah anak si A, B, C yang juga menjadi bagian dari komunitas itu sejak berpuluh tahun lamanya.

Mendapati kenyataan seperti itu, saya memahami pilihan Darkem untuk tidak menyekolahkan Dilman. Toh, ujung-ujungnya anak-anak itu kelak akan meneruskan jejak memulung mereka. Setidaknya begitulah siklus yang terjadi di sana. Pendidikan formal yang diterima anak-anak mereka tak mampu memobilisasi mereka secara sosial. Darkem benar, Dilman mungkin tak perlu pergi ke sekolah.

Lalu, bagaimana? Tak mudah melakukan intervensi untuk komunitas seperti ini, memberikan kesadaran di tengah kenyataan yang mereka hadapi itu seperti memaksa mereka membayangkan sesuatu yang belum pernah mereka temui sebelumnya, bahkan dalam mimpi pun tidak.

Masih menyandarkan harapan pada pendidikan, saya membayangkan ada sebuah pendidikan berbasis komunitas yang fokus pada pemulung. Tak perlu konsep pendidikan yang muluk, cukup sederhana dan tak jauh dari lingkungannya, yakni sampah.

Ada yang mengatakan, sampah itu berharga jika bisa mengolahnya. Namun selama ini para pemulung itu hanya fokus mengumpulkan sampah, membersihkannya, lalu menjualnya kepada pengepul. Alangkah bermanfaat jika anak-anak di sana mulai diajak untuk melihat bahwa apa yang mereka kumpulkan tak sekadar tumpukan sampah. Anak-anak itu harus ditunjukkan potensi dan peluang yang dapat mereka lakukan dengan benda-benda itu. Hal-hal yang tak mungkin mereka dapatkan di bangku pendidikan formal.

Sekelumit Tentang Komunitas Pemulung Pondok Betung

Komunitas pemulung Pondok Betung menempati sebidang tanah seluah 4000 meter persegi, cukup luas ya. Tanah tersebut terletak di Komplek Perumahan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) daerah Pondok Betung, Bintaro, Tanggerang Selatan. Posisinya tepat di belakang komplek Sekolah Tinggi Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Secara historis wilayah yang biasa disebut dengan Komplek Meteo itu berdiri di atas tanah negara yang dibeli oleh BMKG di tahun 1963 dan 1964. Pada 1975 tanah tersebut berhasil disertifikasi dengan luas 127.780 meter persegi. Meski tanah sudah disertifikasi, ada sekitar 15 orang mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri. Pada 1977 Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan bahwa BMKG (atau BMG pada waktu itu) menang dan berhak atas kepemilikan tanah tersebut.

Pada 1992 muncul gugatan baru oleh delapan orang yang merupakan bagian dari 15 orang yang menggugat pada 1977. Hasilnya, pada 1992 BMG dinyatakan kalah, sehingga penggugat memiliki hak atas beberapa blok tanah di Komplek Meteo. Salah satunya adalah sepetak tanah yang ditempati oleh komunitas pemulung.

Meski dinyatakan menang di pengadilan, tak otomatis memberi kemerdekaan kepada penghuni tanah tersebut, yang semuanya adalah pemulung. Pemerintah (RW) dan warga setempat tetap menganggap komunitas pemulung itu ilegal. Artinya, mereka tidak mendapatkan hak yang semestinya diterima oleh warga negara, yang paling sederhana adalah pengakuan menjadi bagian dari suatu kawasan yang biasa dibuktikan dengan kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP), baik yang bersifat tetap atau sementara.

Bahkan, ketika kami menemui Kepala RW setempat, beliau menyarankan bahwa sebaiknya tidak memberikan bantuan yang bisa membuat mereka nyaman. Bagi beliau, itu sama saja membuat mereka terus bergantung dan tidak mau meninggalkan kawasan tersebut.

Atas nama kemanusiaan tentu saja kami tidak sepakat, yang perlu dilakukan adalah membekali komunitas itu dengan keterampilan agar mereka bisa mengangkat kehidupannya dan tak lagi tinggal di kawasan itu.

Bagi saya, komunitas pemulung Pondok Betung menyimpan banyak misteri. Mulai dari persengketaan tanah, keberadaan pemulung, “bos”, dan pengepul. Ada semacam rantai yang membuat mereka sulit terlepas, alih-alih terjerat. Saya tak akan bicara banyak tentang ini karena data tidak mencukupi. Mudah-mudahan dilain kesempatan saya bisa masuk ke dalam lebih jauh. (*)

Leave a comment

“When everyone is included, everyone wins.”

Jesse Jackson

BangKIT Project

Let’s connect