
Bagian paling menyenangkan berada di divisi riset dan pengembangan adalah bisa bertemu dengan banyak orang dan belajar banyak hal. Tahun 2005 saya menjadi bagian dari organisasi pers mahasiswa Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Airlangga. Selepas suksesi di pertengahan tahun itu, saya mendapat tanggung jawab di divisi riset dan pengembangan. Berada di divisi ini membawa saya bertemu dengan orang-orang spesial.
Saya ingat betul tahun itu majalah kami akan terbit bertepatan dengan hari Pahlawan. Kami pun disibukkan dengan rapat redaksi dan beberapa riset. Di sinilah awal pertemuan saya dengan seorang ekstapol bernama Pak Ibrahim.
Pak Ibrahim adalah informan yang saya temui. Usia beliau sudah memasuki angka 80 an ketika itu. Meski begitu, postur Pak Ibrahim masih tegap. Badannya tinggi khas orang militer. Namun layaknya orang tua, diusia yang tak lagi muda itu Pak Ibrahim berjuang melawan diabetes.
Saya lupa Pak Ibrahim masuk di kesatuan mana. Saya juga tak tahu cerita tentang bagaimana ia menjadi tahanan polisi karena beliau sendiri pun tak tahu menahu kenapa ditangkap dan dipenjara, yang jelas peristiwa naas itu menjadi awal kehancuran karier dan kehidupannya. Betapa tidak, lantaran tak tahan dengan guncingan orang tentang tuduhan sebagai antek PKI, istrinya meninggalkannya dengan membawa serta anak-anak mereka.
Di masa-masa kebebasannya sebagai tahanan, Pak Ibrahim hidup apa adanya dan serba terbatas. Ia hidup seorang diri di sebuah rumah bambu di kawasan Mulyosari Surabaya.
Memasuki ruangan berukuran kira-kira 4×6 meter itu saya disambut dipan, lemari, dan sepanjang meja dan kursi. Tersedia tikar bagi para tamu yang mengunjunginya. Di satu bagian dinding rumah itu terpampang bendera merah putih dan bendera suatu organisasi politik yang menjadi “rumah” perjuangan Pak Ibrahim.
Meski sudah tak menjadi tahanan, jangan dikira Pak Ibrahim benar-benar bebas ya, label PKI yang menempel pada dirinya itu tak ubahnya bagai “penjara”. Pak Ibrahim tetap saja terkucil dari keluarga dan masyarakat.
Seperti kebanyakan orang tua Pak Ibrahim suka bercerita. Masa-masa perjuangannya melawan penjajah adalah bagian penting yang selalu menjadi kebanggaannya. Beliau juga mengaku kesepian dan sangat senang bertemu dan berdiskusi dengan anak-anak muda.
Setelah berbincang panjang lebar, rupanya Pak Ibrahim menaruh kepercayaan kepada saya dengan memberikan satu eksemplar ketikan tentang kesaksian Subandrio, cukup tebal. Saya bawa pulang segepok tulisan itu, membacanya, lalu menyalinnya atas ijin Pak Ibrahim.
Beliau berpesan kepada saya untuk sering-sering mengunjunginya. Saya hanya bisa mengiyakan. Sesekali saya memang menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Saya kadang membawakan sedikit makanan. Pernah suatu ketika karena kesibukan saya lama tak menyambangi Pak Ibrahim. Lalu, tiba-tiba saya dikejutkan dengan kedatangan beliau ke rumah kos saya di kawasan Gubeng Jaya Surabaya, saya merasa tak enak.
Sejak 2007 saya tak pernah lagi mengunjungi Pak Ibrahim, begitu pula Pak Ibrahim tak pernah lagi nekat menemui saya. Namun, ternyata Pak Ibrahim tak pernah melupakan saya. Suatu hari saya mendapat telepon dari seoarng pemuda yang juga dekat dengan Pak Ibrahim. Mereka menyampaikan bahwa Pak Ibrahim ingin bertemu, dia mengatakan kondisi fisiknya sudah sangat lemah. Saya hanya mengiyakan tanpa pernah menjenguknya.
Selang beberapa hari setelah panggilan telepon itu, saya kembali dihubungi oleh seseorang yang mengabarkan bahwa Pak Ibrahim telah tiada. Sejujurnya saya agak menyesal kenapa tak mengunjunginya ketika itu.
Dalam beberapa hal mungkin saya tak sepaham dengan Pak Ibrahim, namun satu hal yang saya kagumi adalah semangatnya yang tinggi. Di usia yang tak lagi muda itu Pak Ibrahim masih sanggup melakukan long march bersama anak-anak muda. Beliau selalu berpesan untuk tidak mudah menyerah dan selalu berjuang untuk orang yang lemah. Terlepas dari apa organisasinya dan apa yang diperjuangkannya, semangat Pak Ibrahim untuk terus berjuang begitu menginspirasi dan patut diapresiasi.
Saya berdoa, semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. (*)
Leave a comment