Menulis, melukis, menari, membuat lagu, atau apa pun kreasi yang manusia ciptakan adalah suatu bentuk respons terhadap semua hal yang ditemui. Begitu pula Maud, lukisannya adalah wujud bagaimana ia merespons dunia.

“Siapa yang melukis ayam bahagia itu?” Sandra berkata seraya mencondongkan tubuhnya ke arah pintu, ia sudah hendak mengucapkan salam perpisahan namun matanya justru tertuju pada lukisan ayam.
“Aku yang melukisnya. Itu adalah ayam yang ada di pekarangan, aku hanya ingin mengenang hari bahagianya.” Maud tersipu.
Mengenang. Satu kata kunci yang tiba-tiba menyembul dikepalaku. Mengenang adalah mengingat sesuatu. Agar tak lupa, manusia selalu menyimpannya dalam berbagai rupa, dan Maud membingkainya menjadi lukisan.
Maudie adalah judul sekaligus nama tokoh utama film biografi folk artist Kanada. Maud Lewis atau Maudie dipandang aneh oleh orang di sekitarnya bahkan keluarganya (adik dan bibinya) karena penyakit tulang yang dideritanya.

Namun demikian, ketidaksempurnaan fisik, pandangan aneh, tersingkir, dan dikucilkan tak membuat Maudie memandang kerdil hidupnya. Ia hidup dengan pikiran bebas dan luas.
Keterbatasan fisik tak membelenggu pikiran Maudie. Ia berusaha membuktikan bahwa dirinya tak lemah seperti yang orang bayangkan dengan nekat bekerja sebagai asisten rumah tangga.
“Sekali keluar dari rumah ini, jangan pernah kau kembali,” ancam bibinya ketika Maudie memutuskan untuk bekerja sebagai asisten di sebuah rumah. Ancaman itu tak membuat Maudie goyah, ia bersikukuh meninggalkan rumah perempuan yang merawatnya itu.
“Jangan lihat fisikku, aku mampu bekerja dengan kekuatan seperti lima orang,” ujar Maudie ketika ia beradu mulut dengan Everett, lelaki yang memperkerjakannya. Everett tak henti-hentinya memandang Maudie sebagai orang cacat dan tak becus bekerja, ia sangat keras untuk tidak mengatakan bahwa sikapnya cenderung kasar.
Tak cukup hanya itu, Maudie juga harus menanggung konsekuensi tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan suaminya itu dengan sebutan budak cinta. Semua itu tak menggoyahkan tekad Maudie. Ia tetap bekerja dengan baik, membersihkan rumah dan memasak untuk Everett yang seorang nelayan.
Pertemuan Maudie dengan Sandra, pelanggan Everett, membuka pintu bagi Maudie untuk menunjukkan talentanya kepada dunia. Ketika itu, Sandra menagih ikan pesanannya kepada Everett. Tak berhasil bertemu Everett, Sandra malah bertemu Maudie.

Keisengan Maudie melukis dinding rumah Everett ternyata menarik perhatian Sandra. Baginya, lukisan Maudie memberikan warna berbeda tentang kehidupan. Maudie mampu menangkap momen-momen yang kerap luput dari pandangan manusia, seperti lukisan ayam yang pertama kali dilihat Sandra itu. Ya, lukisan Maudie menunjukkan bagaimana ia memandang dunia. Baginya kehidupan itu indah, sungguh bertolak belakang dengan raga yang membalut jiwanya.
Hal lain yang menurutku luar biasa adalah interpersonal skill yang dimiliki Maudie. Ia tahu bagaimana berkomunikasi dan mengatasi situasi dengan sangat luwes.
“Aku tahu kau pandai, kau bekerja menggunakan pikiranmu, tapi manusia punya keterbatasan berpikir, Ev. Mari kita mulai dengan menulis apa yang sudah kamu kerjakan dan apa yang harus kamu lakukan.” Begitulah cara Maudie mengingatkan Everett tentang pesanan Sandra yang tak kunjung ia antar.
Everett yang keras kepala itu mau mendengarkan saran Maudie untuk segera mengantar ikan pesanan Sandra. Sebagai permohonan maaf, Sandra mendapat hadiah dua kartu pos yang berhiaskan lukisan Maudie. Sandra sangat senang, ia lalu memesan lagi kartu serupa.
Sandra adalah pelanggan pertama Maudie sekaligus lompatan penting bagi Maude untuk terus berkarya. Maudie membuat lukisan di kartu pos, di pintu, di dinding, dan di mana saja.
Di rumah kecilnya, Maudie yang telah menikah dengan Everett membuka galeri lukisan. Maudie sangat terkenal, terlebih setelah Presiden Nixon juga memesan lukisan kepadanya. Publikasi dan wawancara oleh media cetak dan elektronik tak terelekkan. Kesuksesan besar sebagai pelukis pun berhasil diraihnya.
Meskipun menyajikan kisah yang menggugah, sejak awal alur film ini berjalan linier hingga tiba disepertiga durasi film aku dikejutkan dengan kenyataan bahwa Maudie memiliki anak perempuan yang masih hidup. Ya, jauh sebelum Maudie memutuskan untuk mandiri, ia pernah menjadi seorang ibu.
Anak perempuan Maudie dijual oleh adik dan bibinya. Mereka beranggapan bahwa mengurus dirinya sendiri saja Maudei tak bisa apalagi mengurus bayinya. Maudie sangat terpukul ketika ia tahu adik dan bibinya berbohong mengenai anak yang belum sempat digendongnya itu dengan mengarang cerita tragis bahwa bayi malang itu mati. Maudie begitu sedih.
Di tengah kesedihannya, Everett rupanya juga sedang marah. Ia beranggapan Maude tak peduli dengan harga dirinya, ia merasa terbebani dengan anggapan orang-orang bahwa Everett mengambil untung dari ketenaran Maudie.
Pertengkaran kecil itu membuat Maudie kalut dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Everett. Tak ada tempat lain yang Maudie tuju selain rumah Sandra.
“Maud, kau mau mengajari aku melukis?”
“Kurasa tak ada yang bisa mengajarimu itu, jika kau ingin melukis, melukis saja.”
Maudie menarik nafas dalam-dalam, “Aku tidak pergi ke mana-mana, jadi aku melukis dari ingatanku.”
“Aku sudah lama mengenalmu Maud, dan aku masih berusaha memikirkan apa yang membuatmu begitu luas.”
“Aku tidak tahu. Aku tidak menginginkan banyak, kau tahu? Selama aku punya kuas dihadapanku, aku tak peduli.”
Sejurus pandangan Maudie beralih ke arah jendela. Ia menatapnya begitu lekat, “Sebuah jendela, aku suka jendela, burung-burung berterbangan, lebah.”
Sunyi, dan pandangan Maudie pun semakin jauh melampaui bingkai-bingkai jendela itu. “Seluruh kehidupan. Seluruh kehidupan sudah terbingkai. Di sana.”
Dialog Mauide dan Sandra ini seolah membiusku.
Menjelang film berkahir, Everett menjemput Maudie dan memberinya kejutan dengan melihat anak perempuannya dari kejauhan.
Tak kalah mengharukan adalah saat terakhir kehidupan Maud. Everett setia mendampingi Maud di tengah kondisi fisik yang terus menurun hingga kematian menjemput Maud.
“Everett, seluruh kehidupan sudah terbingkai, di sana.” Ia bisikkan kalimat terakhirnya, lalu memejamkan matanya.

Leave a comment