Secuil cerita ini saya dapati ketika mudik lebaran tahun ini. Mungkin ini bukan sesuatu yang baru, tapi tetap membuat saya kagum, hingga mampu menumbuhkan rasa optimis.

Begini, lima hari menjelang Lebaran saya menyempatkan diri untuk mengunjungi kakak di Malang. Sekitar pukul 16.00 saya tiba di stasiun Malang Baru, beruntung kakak saya dan suaminya sudah tiba di sana untuk menjemput saya.

Saya menikmati suasana di sepanjang perjalanan menuju rumah kakak. Begitu tiba di sebuah tikungan jalan Gatot Subroto, saya mendapati pemandangan yang tak biasa. Beberapa kendaraan tampak parkir berjajar, muda-mudi sibuk mengambil gambar. Wow! ternyata saya melewati kampung yang atapnya warna-warni. Nama kampung itu adalah Jodipan.

Saya bertanya kepada kakak ipar saya, di kampung itu ada apa saja selain atapnya yang warna-warni? Ternyata tidak ada. Meski begitu, kata kakak saya kawasan itu sudah bisa bikin macet karena banyaknya orang yang datang untuk swafoto.

Sejak ramai dikunjungi orang, kampung itu dikenal dengan sebutan KWJ, Kampung Warna-Warni Jodipan. Berdasarkan sumber dari situs berita BBC Indonesia, KWJ adalah kampung wisata pertama di Kota Malang yang digagas delapan mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diketuai Nabila Firdausiyah.

Sekelompok mahasiswa itu menggandeng perusahaan cat untuk mewujudkan kampung tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Sekitar 107 rumah warga pun disulap dengan 17 warna, lengkap dengan gambar yang dilukis komunitas mural.

Menjawab Masalah Sanitasi, Sampah, dan Ekonomi Sekaligus

Jodipan terletak di tepi Sungai Brantas yang padat penduduk. Sudah dipastikan lingkungan urban semacam ini kerap bermasalah dengan sanitasi. Tak semua rumah memiliki toilet dan kebiasaan warga membuang sampah di sungai adalah masalah yang harus diintervensi.

Ajaib, disulapnya rumah-rumah kumuh jadi destiniasi wisata itu ampuh mengubah perilaku warga untuk lebih peduli terhadap masalah sanitasi dan kebersihan lingkungan. Rupanya, kedatangan para wisatawan cukup membuat mereka berhenti membuang sampah di sungai. Sejumlah tempat sampah sudah tersedia yang secara rutin diangkut petugas kebersihan. Pun toilet umum digunakan warga secara bergantian.

Tiket masuk KWJ tak mahal, hanya Rp2000 saja. Retribusi tersebut digunakan untuk mengangkut sampah dan untuk perawatan lingkungan.

Selain kepedulian sanitasi meningkat, KWJ juga membuka peluang warga untuk berjualan minuman dan makanan ringan, serta mengelola parkir kendaraan.

Menyelamatkan penduduk dari penggusuran

Kampung yang sudah rapi ini sebenarnya adalah pemukiman liar yang sempat terancam digusur. Namun melihat keunikan tersebut, Pemerintah menjadi lunak dan malah menetapkan Jodipan sebagai kawasan wisata sejak 23 September 2016.

Nah, pendekatan wisata ternyata sangat efektif untuk menyelesaikan masalah klasik di lingkungan urban, sebut saja masalah pemukiman kumuh, sampah, sanitasi, ekonomi, hingga persoalan penggusuran, dampaknya benar-benar bisa menyeluruh. Saya berharap, geliat ini bisa terus dikembangkan agar masyarakat tidak jenuh.

*Bagi kamu yang penasaran KWJ seperti apa, cek di YouTube saja, ya. Foto-foto yang saya ambil tak begitu bagus karena saya menjepretnya sambil lalu.

Malang, 16 Oktober 2017

Leave a comment

“When everyone is included, everyone wins.”

Jesse Jackson

BangKIT Project

Let’s connect