Keindahan wisata bawah laut Indonesia sungguh memesona. Berbagai macam terumbu karang ada di sana. Eksotika bawah laut itu pasti menggelitik siapa saja untuk mengabadikannya dengan jepretan kamera.

Hari itu kapal pesiar MV Salila tidak sedang membawa wisatawan. Emi Vizhanyo dan Sangut Santoso
tidak melewatkan waktu senggang yang jarang ini dengan SCUBA diving. Bagi keduanya menikmati keindahan bawah laut bisa mengusir lelah dan menyegarkan pikiran. Aktivitas menyelam sudah menjadi ritual sehari-hari bagi pasangan ini, bahkan ketika bertugas, Emi masih menyempatkan diri
menyelam .

Warga negara Hungaria yang menikahi pria Indonesia ini adalah Cruise Director kapal pesiar MV Salila, yang bisa disewa para turis menjelajahi keindahan lautan Indonesia, mulai dari Pulau Weh, Aceh, di ujung barat hingga ke Raja Ampat di Papua, ujung timur Indonesia. Menyelam dan memancing adalah aktivitas andalan ketika berplesir di laut. Tak jarang Emi menjadi body (pendamping selam) bagi turisturis yang dibawanya.

Hobi menyelamlah yang membawa Emi ke Bali dan Komodo tahun 2008. Keindahan bawah laut di sana membuatnya terkesan. “Tujuan utama saya datang ke Indonesia adalah menyelam,”tutur Emi. Pada awalnya ia hanya satu bulan tinggal di Bali dan Komodo, tapi kemudian ia ingin kembali lagi dan kembali lagi, bahkan tinggal di Indonesia.

Banyak destinasi wisata yang menawarkan wisata selam yang pernah dikunjunginya, tapi bagi Emi, Indonesia jauh lebih istimewa. “Indonesia sangat indah, surga bagi para penyelam,” katanya. Suasananya, panorama alamnya, serta keindahan flora dan fauna spot bawah lautnya itu sendiri, menjadikan Indonesia sangat luar biasa. “Indonesia merupakan salah satu destinasi utama
menyelam di dunia,” ujarnya.

Sementara Sangut adalah diver asal Klaten, Jawa Tengah. Berbagai spot menyelam di Indonesia pernah ia sambangi, baik ketika bertugas bersama MV Salila atau ketika berlibur. Raja Ampat, Bali, Komodo, Alor, Ambon, Banda, Maumere, hingga Sulawesi, sudah ia singgahi. Wisata bawah laut di Indonesia memang menakjubkan, terutama di Indonesia bagian timur. Selama menjadi Cruise Director di MV Salila, Komodo dan Raja Ampat adalah tempat favorit yang sering dikunjungi. Kedua spot ini memiliki kekhasan yang berbeda.

Komodo adalah Taman Nasional dengan wilayah yang lebih kecil dibanding Raja Ampat. Perairan di Komodo berarus. Ikan-ikan besar banyak ditemui di sana, ada tuna, kerapu (grouper), kakap, barracuda, hiu, dan lumbalumba. Komodo juga tempat yang bagus untuk menyelam. “Di sana ada komodo yang sangat populer,” ungkap Emi.

Perairan Raja Ampat dengan banyak pulau kecil dan pantai berpasir putih mempunyai keunggulan yang berbeda. “Terumbu karangnya indah sekali, beragam jenis dan warna, sehat, bagus sekali,” katanya. “Tak ada yang menandingi Raja Ampat,” decak Emi. Dengan spesies terumbu karang terbanyak di dunia, tak salah jika Raja Ampat dijuluki sebagai surga terumbu karang dunia.

Fauna yang menghuni kawasan terumbu karang ini juga begitu beragam, mulai dari mollusca, udang-udangan dan kepiting, hingga ratusan spesies ikan warna-warni – bagaikan akuarium alam raksasa. Manta ray, pari hitam besar pemakan plankton juga mudah kita temui. Ikan ini mengepakkan siripnya, bak pesawat tempur siluman Amerika, Stealth, menjelajah dengan gagahnya. Di spot Blue Magic, di Pantai Waiwo, terdapat gunung kecil di bawah air di kedalaman sekitar 15-20 meter. Manta ray kadang muncul di sana. Panjangnya sekitar 3-4 meter. “Dia lewat begitu saja, saya suka melihat gerakan ‘sayap’-nya,” ungkap Emi.

Jika menyelam di musim ikan, sekitar bulan Januari, bersiaplah dikelilingi koloni ikan barracuda dengan giginya yang menyeramkan. Koloni ikan itu begitu padat dan luas hingga menghalangi pandangan. Sangut tak melewatkan momen ini begitu saja. Kamera Canon EOS 50D miliknya selalu siap menangkap momen seru ikan-ikan badut yang bermain di antara anemon. Canon EOS 50D milik Sangut sangat cocok untuk mengambil gambar underwater. Sensitivitas terhadap cahaya sangat bagus, sehingga di kedalaman laut yang minim cahaya pun ia dapat menghasilkan foto-foto yang fantastis. “Dengan kamera ini saya bisa memotret hingga di kedalaman 30 meter,” ujarnya. Kepekaan cahaya dan kecepatan rananya memungkinkan ia mengambil banyak gambar dalam waktu singkat.

Keindahan di bawah laut pasti menggelitik siapa saja untuk mengabadikannya dengan jepretan kamera. Dulu, 15 tahun lalu, dari 10 tamunya mungkin cuma satu yang bawa kamera, kini dari 10 tamu bisa ada 12 kamera. “Satu orang ada yang bawa dua, karena untuk makro lensanya beda, karena lensa tidak bisa diganti di bawah air jadi bawa dua,”tutur Sangut. Ia selalu mengingatkan para penyelam yang didampinginya untuk lebih memerhatikan konservasi terumbu karang. Diantara penyelam yang ingin
mengambil gambar, ada juga yang belum mahir menyelam, atau belum familiar dengan kameranya sehingga ketika mengambil foto berpotensi merusak karang. “Bayangkan, keseimbangan belum bagus, membawa banyak perlengkapan, konsentrasi mengambil gambar, akhirnya kakinya bergerak kemanamana hingga mengenai dan merusak terumbu karang,” ungkapnya.

Ketika mengambil gambar underwater, Sangut menyarankan untuk belajar keseimbangan (buoyancy) terlebih dahulu. Perlu juga membiasakan diri dengan kamera. Membiasakan tangan ketika memindahkan fokus. Membiasakan diri dengan perlengkapan menyelam dan memotret, sehingga waktu mengambil foto tidak merusak karang.

Petualangan di bawah laut memang seru. Dan Nusantara memiliki ribuan diving spot dengan keunikan masing-masing yang menanti untuk Anda selami. Seperti juga diver sejati lainnya, pasangan Emi dan Sangut pun tak pernah lelah untuk terus menjelajah. November tahun ini, mereka berencana ke pulau Lembeh, di dekat Bitung, di Sulawesi Utara. Di sana, banyak kuda laut, tangkur buaya, serta beraneka warna dan bentuk ikan kecil unik dan lucu. “Spot di Lembeh merupakan salah satu tempat yang wajib kita kunjungi,” ujar Sangut seraya tertawa. Canon EOS 50D andalannya selalu siap menemani dan mengabadikan pemandangan tak terlupakan di sana.

(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di rubrik “Leisure” Majalah Kontak edisi Mei 2013)

Leave a comment

“When everyone is included, everyone wins.”

Jesse Jackson

BangKIT Project

Let’s connect